VIVAnews - Provinsi Negros Oriental di Filipina bagian tengah masih mencekam setelah diguncang gempa bumi Senin kemarin. Ratusan gempa susulan terasa di Negros Oriental dan sekitarnya serta jumlah korban tewas dikhawatirkan terus bertambah.


Menurut kantor berita Reuters, kantor pemerintah dan sekolah setempat tutup setelah terjadi 240 kali gempa susulan. Tim penyelamat masih terus melakukan pencarian korban gempa berkekuatan 6,8 pada skala Richter itu. Korban tewas dilaporkan telah mencapai 43 orang dan puluhan warga masih hilang.

"Peralatan berat yang kami minta dari pemerintah provinsi belum datang karena banyak jalanan dan jembatan yang terputus akibat longsor," kata Inspektur Senior Albert Futalan, kepala polisi kota Guihulgan di Negros, seperti diberitakan Sydney Morning Herald Selasa 7 Januari 2012.

Guihulgan termasuk salah satu kota yang paling parah terdampak gempa dengan longsor dimana-mana, yang merusak rumah penduduk dan fasilitas publik. Kota berpenduduk 100 ribu jiwa ini berada di lereng gunung yang dekat dengan titik pusat gempa.

Saluran telekomunikasi di beberapa tempat terputus sehingga informasi dari pusat tidak dapat sampai ke lokasi gempa. Tim penyelamat yang terdiri dari puluhan polisi, ratusan tentara, dan sukarelawan berpacu dengan waktu menyisir reruntuhan untuk menemukan para korban.

Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan, gempa terjadi sekitar 70km timur laut kota pesisir Dumaguete, Kepulauan Negros pada Senin 6 Februari pukul 11.49 waktu setempat. Pusat gempa terletak di perairan dengan kedalaman 46,6 km dari permukaan laut.

Kota Cebu yang berlokasi di area Visayas dan berjarak 50 kilometer dari titik pusat gempa juga turut merasakan getaran hebat. Tidak ada laporan korban tewas dari tujuan pariwisata populer di Filipina ini.

Filipina terletak di cincin Api Pasifik, yang artinya sering terjadi gempa dan letusan gunung berapi. Gempa terbesar di Filipina berkekuatan 7,7 SR terjadi tahun 1990, sebanyak 2.000 orang tewas.
Homepage: http://dunia.vivanews.com/news/