Mungkinkah buah hati saya terkena tuberkulosis (TB)? Bagi kita pertanyaan tersebut sangat wajar mengingat TB masih merupakan penyakit endermis di Indonesia. Indonesia merupakan peringkat kelima dunia negara dengan prevalensi TB terbanyak. TB merupakan penyakit menular yang disebabkan oelh kuman Mycobacterium tuberkulosis. Berbeda dengan TB pada dewasa yang gejala utamanya adalah batuk lama lebih dari tiga minggu, gejala TB anak sangat tidak spesifik.


Kita patut curiga buah hati mungkin tertular TB bila didapatkan beberapa gejala berikut ini
1. Demam lama lebih dari dua minggu atau demam berulang (umumnya demam tidak terlalu tinggi).

2. Nafsu makan turun, berat badan turun atau tidak naik dalam dua bulan berturut-turut.
3. Batuk yang menetap atau memburuk lebih dari tiga minggu.
4. Anak tampak lesu dan tidak aktif seperti biasanya.
5. Teraba benjolan di leher (umumnya lebih dari satu).
6. Kontak erat dengan penderita TB paru aktif.


Sayangnya, tidak satu pun gejala tersebut spesifik sebagai gejala TB karena penyakit kronik lainnya juga dapat memiliki gejala tersebut. Oleh karena itu, jika buah hati kita menunjukkan gejala demikian, segeralah bawa ke dokter.


Sebelum seorang anak divonis menderita TB, selain mempertimbangkan gejala klinis yang muncul, perlu dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang. Pada anak, pemeriksaan uji tuberkulin atau tes Mantoux merupakan pemeriksaan yang utama. Tes Mantoux merupakan pemeriksaan dengan cara menyuntikkan larutan tuberkulin (protein kuman TB) di bawah kulit (intrakutan). Hasil tes dapat dibaca antara 48-72 jam. Jika timbul benjolan pada bekas suntukan dengan ukuran. 10 mm, dapat dikatakan hasil tes positif. 


Pemeriksaan lain yang dapat membantu diagnosa TB adalah pemeriksaan rontgen dada. Pemeriksaan ini dapat memperkuat dugaan ke arah TB, tetapi tidak dapat dipakai sebagai satu-satunya pemeriksaan untuk menentukan diagnosa TB.


Penyakit TB dapat disembuhkan, tetapi memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Lama pengobatan tergantung berat ringannya penyakit berkisar antara 6-12 bulan. Agar penyakit dapat sembuh secara tuntas, anak harus minum obat secara teratur setiap hari. Obat sebaiknya diminum saat perut kosong agar penyerapan obat lebih baik. Berikan jeda kurang lebih satu jam setelah minum obat bila hendak makan. Pengobatan TB diberikan dalam bentuk kombinasi 3-4 macam obat. Hal ini dilakukan untuk mengeradikasi kuman semaksimal mungkin dan mencegah timbulnya kuman yang kebal terhadap obat. Pemberian obat dapat diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa obat tunggal atau untuk mempermudah pemberian dapat diberikan dalam bentuk kombinasi dosis tetap. Selain minum obat secara teratur, perlu diperhatikan juga faktor nutrisi yang cukup dan seimbang, lingkungan rumah yang bersih dengan ventilasi dan pencahayaan yang baik dan imunisasi BCG saat bayi.


Keberhasilan pengobatan TB dapat diamati dengan memonitor perbaikan gejala penyakitnya, seperti peningkatan berat badan, demam dan batuk menghilang, pembesaran kelenjar getah bening mengecil dan gejala lainnya menghilang. Umumnya, perbaikan nyata terjadi pada dua bulan pertama pengobatan. Bila respon pengobatan baik, kita akan semakin yakn bahwa anak tersebut benar menderita TB. Nmun, jika tidak ada perbaikan yang nyata setelah dua bulan pengobatan, perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut apakah anak tidak menderita TB atau TB dengan kebal obat.


Sumber : klasika kompas