Bernie Siegel, dokter bedah yang bermukim dan berpraktik di Amerika Serikat, rupanya tidak hanya bisa mengoperasi pasien, melainkan juga menghasilkan buku klasik, Love, Medicine and Miracle. Serupa dengan Krishan Chopra dan Deepak Chopra yang mendalami cinta sebagai serangkaian kekuatan, Siegel juga memfokuskan penglihatan pada segi-segi cinta sebagai kekuatan penyembuh.



Sebagai bagian dari upaya meyakinkan publik tentang cinta sebagai kekuatan, Siegel mengemukakan banyak bukti. Salah satunya, di kota kecil di Eropa pernah dilakukan penelitian kecil. Sekelompok suami yang bepergian ke kantor dengan mengendarai mobilnya dibagi dua kelompok, yakni kelompok suami yang dicium pipinya oleh sang istri sebelum berangkat ke kantor, dan kelompok suami yang tidak pernah dicium sebelum ke kantor.


Setelah beberapa waktu, ternyata kelompok suami yang dicium istrinya sebelum ke kantor memiliki risiko kecelakaan mobil lebih kecil dibandingkan yang tidak pernah diciumi istrinya. Ada pula pembuktian Siegel yang lain, di mana kelompok anak orang utan yang disusui ibunya di hutan yang kotor dan tidak steril, ternyata daya tahan tubuhnya lebih baik dibandingkan kelompok orang utan yang dipelihara manusia di laboratorium steril.


Boleh saja, orang meragukan hasil penelitian ini. Namun, ciuman, pelukan dan belaian (secara langsung maupun tidak) ternyata berpengaruh terhadap kualitas hubungan manusia. Seorang anak misalnya, bisa saja tidak merasakan apa-apa ketika dicium ibunya, tetapi frekuensi ciuman yang sering ke pipi anak lebih mungkin meninggalkan kenangan panjang pada sang anak. Untuk kemudian tidak saja merajut kenangan, tetapi juga membuat kualitas hidup sang anak penuh diwarnai cinta.


Saya punya rajutan kenangan bersama almarhumah Ibu. Dulu, ketika Ibu masih sehat dan segar, dan berkunjung ke Jakarta, ada satu perilaku yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Sebagai orang desa yang bergaul terbatas, Ibu tidak pernah mencium putranya yang sudah besar. Namun, dalam perpisahan mau pulang, tiba-tiba Ibu memeluk dan mencium pipi saya. Ketika itu, yang ada hanyalah rasa kaget sebentar, karena merasa Ibu berperilaku lain.


Sekian tahun setelah semua itu berlalu, dan kami dipisahkan oleh kematian, tempat dan waktu, ekspresi muka Ibu lengkap dengan pejaman matanya ketika mencium saya masih teringat jelas. Lebih dari sekadar dihubungkan oleh untaian memori, ciuman Ibu juga seperti magnet yang membuat sang hidup terasa lebih berjiwa dan berenergi. Ada tarikan-tarikan cinta yang membuat matahari kehidupan seperti tersenyum.


Ada memang rekan yang senantiasa mengingat ciuman wanita pacarnya. Namun, saya mengingat sekali ekspresi Ibu -- yang sama dengan sejumlah wanita lainnya -- sambil memejamkan mata mencium pipi putra bungsunya. Ini ciuman yang amat khusus, tidak sekadar terbayang-bayang, tetapi menghadirkan keingintahuan: mengapa banyak wanita memejamkan mata ketika melakukan ciuman?


Lama saya sempat mencari jawabannya. Entah kebetulan entah tidak, dalam kerinduan yang mendalam kepada almarhumah Ibu, tiba-tiba seorang sahabat mengirim SMS: "Wanita memejamkan mata ketika berciuman, karena sadar sedalam-dalamnya kalau keindahan di dalam sini jauh lebih meneduhkan dibandingkan keindahan di luar."


Saya tidak tahu, imajinasi apa yang ada dalam diri Ibu ketika mencium putranya sambil memejamkan mata. Tarikan magnet kehidupan yang dihadirkan kemudian, membawa saya pada keyakinan: kehidupan hening di dalam sini juga bisa tersambung rapi dengan kehidupan hening orang-orang yang kita cintai. Bahkan, dalam rentang waktu yang demikian panjang, atau malah ketika samudra kematian sudah memisahkan kita dengan orang-orang tercinta.


Ini mungkin yang disebut Edward Deming di akhir hayatnya -- sebagaimana dikutip Ken Shelton dalam The New Paradigm of Leadership -- bahwa kualitas kepemimpinan lebih terkait pada aspek tidak terlihat ketimbang aspek yang terlihat. Deming yang menghabiskan kebanyakan hidupnya untuk mempelajari kualitas melalui sarana-sarana terlihat yang bernama statistik, ternyata mengakhiri hidupnya dengan kesadaran yang dalam terhadap the unseen quality of leadership.


Serangkaian kualitas yang tidak terlihat, tetapi tersambung rapi melalui gelombang nurani yang menyentuh hati. Ini tidak saja terjadi antara saya dan almarhumah Ibu, tetapi juga pada Gandhi dan pengikutnya, Ibu Theresa dan suster-susternya, Lady Diana dan pecintanya, John Lennon dengan penggemarnya, Matsushita dengan karyawannya, Pak Hatta dengan banyak orang Indonesia, atau Jack Welch dengan General Electric.


Dalam sinar kejernihan tersebut, terlebih di tengah petaka banyak skandal korporasi seperti Enron, Worldcom, Merck, yang mereduksi kehidupan ke dalam angka neraca rugi/laba yang kering tanpa jiwa, tiba-tiba saya diingatkan oleh ciuman Ibu lengkap dengan pejaman matanya. Kenangan itu kemudian berbisik, angka-angka di luar memang membantu, tetapi ada rangkaian rasa di dalam sini yang menghubungkan kita dengan orang-orang tercinta. Yang akhirnya, membawa sang hidup ke bentangan imajinasi yang tinggi. Meminjam argumen jernih Shakti Gawain dalam Creating True Prosperity: "While prosperity is in some ways related to money, it is not caused by money." Uang memang sejenis energi kehidupan, tapi ia bukanlah sebab utama sejahteranya manusia. Kesejahteraan lebih banyak tersedia di dalam sini, ia terlihat rapi dalam tubuh yang menutup matanya di keheningan.