Seorang ilmuwan menemukan seni untuk mengkloning dirinya dengan begitu sempurna, membuat orang tak dapat membedakan kloningnya dari dirinya yang asli. Suatu hari, ia mendengar malaikat maut mencarinya. Maka, ia segera menciptakan selusin kembaran dirinya. Malaikat bingung, tak bisa mengetahui yang mana dari 13 sosok di hadapannya yang merupakan sang ilmuwan. Maka, ia meninggalkan mereka semua dan pulang ke surga.


Namun, setelah mempelajari kodrat manusia dengan sungguh-sungguh, malaikat kembali dengan sebuah ide brilian. Di hadapan ke-13 sosok itu, ia berkata, “Anda memang seorang genius. Anda berhasil menciptakan tiruan-tiruan diri Anda dengan begitu sempurna. Namun, saya menemukan suatu kesalahan dalam karya Anda, hal yang kecil saja.”
Ilmuwan segera muncul keluar dan berteriak, ”Tidak mungkin!  Mana kesalahannya?”
”Tepat di sini,” kata malaikat, dan ia mengambil sang ilmuwan dari antara tiruannya dan dibawa pergi.
Para pembaca yang budiman, bagaimana komentar Anda membaca cerita di atas? Tentu saja cerita tersebut hanyalah rekaan, tetapi makna yang terkandung di dalamnya sangat patut kita renungkan. Kelemahan kita sebagai manusia bisa dirumuskan dalam satu kata: ego. Ego sering menjerumuskan kemanusiaan kita, membuat kita bertikai dan saling menyakiti satu sama lain.
Ada dua macam ego yang kita miliki. Pertama, kita sebut saja, ego yang pasif. Ego jenis ini membuat kita tak ingin disalahkan orang lain, tak ingin dianggap bodoh, tak ingin dikritik. Sebaliknya, kita ingin dianggap pandai, dianggap penting, dianggap berharga. Siapa pun, selama masih bernama manusia, sangat mendambakan pujian dari orang lain. Yang berbeda hanya porsinya. Ada orang yang benar-benar menggantungkan dirinya pada pujian, ada pula orang yang menanggapinya dengan sekadarnya saja. Yang pasti, tak ada satu orang pun yang tak suka dipuji.
Ego kedua, ego yang aktif. Ego inilah yang membuat kita suka mengkritik orang lain. Kita senang menyalahkan orang lain dan membuat mereka kelihatan bodoh. Kita suka menunjukkan bahwa kita lebih pandai, lebih tahu, lebih berpengalaman, lebih bijak dan  lebih hebat. Bahkan, kalau kita mau jujur pada diri kita sendiri, kita sebenarnya mempunyai kecenderungan suka menyakiti orang lain. Mungkin Anda akan menolak pernyataan saya ini dengan cukup keras. Tidak apa-apa. Akan tetapi, coba Anda renungkan dalam-dalam dan jawablah hanya kepada diri Anda sendiri. Kita sebenarnya suka menyakiti orang lain, khususnya kepada orang-orang tertentu yang tidak kita sukai. Kalau kemudian kita memutuskan tidak menyakiti mereka, sebenarnya hal itu bukanlah karena kita tidak mau menyakiti mereka. Kita hanya tidak mau melukai diri kita sendiri. Kita sepenuhnya sadar bahwa menyakiti orang-orang itu hanya akan membuat diri kita sendiri tersakiti. Menyakiti orang-orang itu hanyalah akan merusak kredibilitas kita sendiri. Jadi, kita sebenarnya hanya tidak ingin menyakiti diri kita sendiri.
Dua jenis ego ini sebenarnya mengandung dua hal yang bertentangan. Di satu pihak kita tak suka dikritik, tapi di lain pihak kita suka mengkritik orang lain. Kita tak suka digurui tapi kita suka menggurui orang lain. Dua hal inilah yang sering membuat kita sulit bersinergi dengan orang lain. Kita memiliki ego yang sangat tinggi. Ego inilah yang membuat kita mudah melukai orang lain. Namun uniknya, ego yang sangat tinggi ini pulalah yang membuat kita mudah terluka, dan mudah sakit hati.
Dunia ini memang dipenuhi orang-orang yang memiliki ego yang sangat tinggi. Ini membuat sinergi sulit sekali dilakukan. Di rumah, ego yang tinggi akan membuat rumah tangga berakhir dengan perceraian. Bahkan, akhir-akhir ini perceraian sudah menjadi menu kehidupan kita sehari-hari. Di kantor juga demikian. Banyak orang yang ingin kelihatan hebat dan lebih unggul dari yang lain. Semuanya karena ingin dirinya sendiri yang dianggap penting. Di dunia politik juga tak kalah serunya. Orang saling bersaing, saling menjatuhkan, saling mengklaim dirinya yang paling berhak.
Situasi seperti ini menciptakan lingkaran setan (vicious circle) yang tak pernah ada habisnya. Namun, mengubah semuanya sebetulnya tidak terlalu sulit. Hanya dibutuhkan satu orang yang mau berpikir menang-menang. Tolong Anda garis bawahi kata-kata ini: berpikir menang-menang. Banyak orang yang ingin menang tapi lupa bahwa orang lain juga menginginkan kemenangan. Mereka lupa bahwa menang-menang memang tak akan dapat dicapai kalau kita tidak memulainya dari berpikir. Dan memang hanya dibutuhkan satu orang saja untuk bisa berpikir menang-menang: Anda sendiri!
Mau menang sendiri adalah ego terbesar yang dimiliki setiap orang. Inilah akar dari setiap masalah. Kalau kita pikir-pikir, bukankah sebenarnya hampir semua masalah yang kita hadapi dengan orang lain berakar dari diri kita sendiri? Ciri terpenting seorang pemimpin adalah kesadaran bahwa keinginan menang sendiri itulah yang sebetulnya tidak realistis. Kalau semua orang ingin menang sendiri, apa yang akan kita dapat?
Seseorang baru disebut pemimpin bila ia mampu menurunkan egonya ke level yang paling minimal. Ego itu sendiri sebenarnya dibutuhkan, karena tanpa ego kita tak akan memiliki harga diri dan kepercayaan diri. Pemimpin juga menyadari bahwa kunci berhubungan dengan orang lain adalah menjaga ego dan harga diri orang lain. Karena itu, ia tak akan pernah mengkritik orang sebelum benar-benar meyakini bahwa kritikan itu akan memberikan manfaat. Seorang pemimpin tak akan pernah memberikan kritik sekadar untuk memuaskan dirinya sendiri. Ia sangat sadar bahwa tugasnya dapat disimpulkan dalam satu kalimat: menundukkan egonya sendiri dan menjaga ego orang lain. Sederhana memang, tapi perlu perjuangan yang besar untuk bisa melakukannya.

Sumber : swa.co.id
Oleh : Arvan Pradiansyah
Direktur Pengelola ILM & pengarang buku best seller Life is Beautiful