Seorang lelaki yang merasa hidupnya tak bahagia mengadu minta kebahagiaan pada Tuhan. Sang Pencipta kemudian mengutus malaikat untuk menemuinya. Ketika datang, malaikat berkata, "Doamu dikabulkan. Silakan minta tiga hal yang akan membuatmu bahagia."
Lelaki itu amat bergembira. Ia merasa salah satu yang membuatnya tak bahagia adalah istrinya yang amat cerewet. "Hai orang tua, dapatkah engkau mencabut nyawa istriku," ujarnya. Permintaannya terkabul. Keesokan harinya istrinya meninggal dunia.



Maka, hari itu para tetangga, kerabat dan handai tolan berkumpul di rumahnya. Mereka amat sedih kehilangan orang yang amat baik ini. Mereka pun saling menceritakan kenangan manis tentang si istri. "Orang baik seperti dia memang cepat dipanggil Tuhan," kata mereka. Mendengar perkataan itu, lelaki ini menjadi panik. Ia sadar telah salah mengambil keputusan. Secepat kilat ia berlari menjumpai si malaikat. "Hai orang tua, hidupkan kembali istriku. Ia ternyata orang yang baik," ujarnya.


Kembalinya sang istri tak juga membuatnya bahagia. Ia merasa telah menyia-nyiakan dua kesempatan yang diberikan Tuhan. Sekarang ia tinggal memiliki satu kesempatan, karena itu ia tak boleh bertindak gegabah. Ia pun bertanya kepada teman-temannya, mengenai apa yang yang dapat membuatnya bahagia. Sebagian temannya menjawab: uang. Sebagian lagi mengatakan: istri muda yang cantik. Ada juga yang mengatakan jabatan dan kekuasaan. Ini membuatnya terombang-ambing dalam kebingungan.


Sampai beberapa tahun kemudian, lelaki ini masih belum memutuskan mana yang terbaik bagi dirinya. Suatu hari si malaikat datang menemuinya. "Aku masih memiliki utang kepadamu. Silakan kau minta satu permintaan lagi," katanya. "Aku bingung wahai orang tua, tolong berikan petunjuk kepadaku," ujar si lelaki. "Baiklah," kata malaikat dengan lembut. "Agar engkau senantiasa merasa bahagia, mintalah kepada Tuhan hati yang penuh syukur."


Mencapai hidup yang bahagia sebenarnya tidak sulit. Kebahagiaan sebenarnya bersumber di dalam diri kita, bukan di luar sana. Untuk mencapai kebahagiaan, kita cuma perlu menyelami diri kita sendiri. Menelusuri hati dan paradigma kita sendiri.


Ada lima hal yang sering menyebabkan kita tak bahagia. Pertama, adanya keyakinan bahwa Anda tidak akan bahagia tanpa memiliki hal-hal yang Anda pandang bernilai. Anda sudah memiliki pekerjaan tetap dan tingkat kehidupan yang lumayan, tapi Anda masih merasa kurang. Anda merasa akan berbahagia bila memiliki uang lebih banyak, rumah lebih besar, mobil lebih bagus, dan sebagainya. Pikiran Anda dipenuhi oleh benda-benda yang Anda kira dapat membahagiakan Anda. Padahal, Anda tidak bahagia karena lebih memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang tidak Anda miliki, dan bukannya pada apa yang Anda miliki sekarang.


Kedua, Anda percaya bahwa kebahagiaan akan datang bila Anda berhasil mengubah situasi dan orang-orang di sekitar Anda. Anda tak bahagia karena pasangan, anak, tetangga, dan atasan Anda tidak memperlakukan Anda dengan baik. Kepercayaan ini salah. Anda perlu menyadari bahwa amat sulit mengubah orang lain. Bukannya berarti Anda harus menyerah, silakan terus berusaha mengubah orang lain. Namun, jangan tempatkan kebahagiaan Anda di sana. Jangan biarkan lingkungan dan orang-orang di sekitar Anda membuat Anda tak bahagia. Kalau Anda tak dapat mengubah mereka, yang perlu Anda ubah adalah diri Anda sendiri, paradigma Anda.


Ketiga, keyakinan bahwa Anda akan bahagia kalau semua keinginan Anda terpenuhi. Padahal, keinginan itulah yang membuat kita tegang, frustrasi, cemas, gelisah dan takut. Terpenuhinya keinginan Anda paling-paling hanya membawa kesenangan dan kegembiraan sesaat. Itu tak sama dengan kebahagiaan.


Keempat, Anda tak bahagia karena cenderung membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain. Saya pernah bertemu eksekutif yang berkali-kali pindah kerja hanya karena kawan akrabnya semasa kuliah dulu memperoleh penghasilan lebih besar dari dirinya. Karena itu, setiap ada tawaran kerja, yang dilihat adalah apakah ia dapat mengungguli atau paling tidak menyamai penghasilan kawannya. Ia bahkan tak peduli bila harus berganti karier dan pindah ke bidang lain. Sampai suatu saat ia menyadari bahwa tak ada gunanya "mengejar" sahabat karibnya. Sejak itulah ia mencari pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minatnya sendiri. Ia kini bahagia dengan pekerjaannya dan tak pernah ingin tahu lagi penghasilan sahabatnya.


Kelima, Anda percaya bahwa kebahagiaan ada di masa depan. Anda terlalu terobsesi pepatah "bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian". Kapan Anda bahagia? "Nanti, kalau sudah jadi manajer," kata Anda. Persoalannya, saat menjadi manajer, Anda tambah sibuk, waktu Anda tambah sempit. "Saya akan bahagia nanti, kalau sudah menjadi direktur atau dirjen, gubernur, menteri, presiden." Nah, daftar tunggu ini masih dapat terus diperpanjang. Namun, Anda tak juga bahagia. Kalau demikian yang terjadi adalah, "bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang entah kapan." Kebahagiaan telah Anda letakkan di tempat yang jauh. Padahal, sebenarnya kebahagiaan berada sangat dekat dan dapat Anda nikmati di sini, sekarang juga!


Apa yang terjadi pada kita mungkin serupa dengan pengalaman dua ekor ikan berikut. Ikan yang muda bertanya kepada ikan yang lebih senior. "Anda lebih berpengalaman dari saya. Di manakah saya dapat menemukan samudra kebahagiaan? Saya sudah mencarinya ke mana-mana, tetapi sia-sia saja!"


"Samudra adalah tempat engkau berenang sekarang," ujar ikan senior. "Hah? Ini hanya air! Yang kucari adalah samudra," sangkal ikan yang muda. Dengan perasaan sangat kecewa ia pergi mencarinya di tempat lain. Hal itu juga dapat terjadi pada Anda. Padahal, kebahagiaan itu tak perlu Anda cari. Anda hanya perlu menumbuhkan kesadaran dan menikmati apapun yang sedang Anda lakukan. Dengan demikian, Anda akan menemukan kebahagiaan itu sekarang. Saat ini juga!