“Winners see the gain, losers see the pain. Winners see an answer for every problem; losers see problems in every answer. Winners see the potentials, losers see the past. Winners don’t see (asli: do) different things, they see things differently.”

Kata kunci ungkapan tadi yang membedakan winner dan loser adalah “melihat” -- kosakata yang lumrah, biasa dan sepele. Namun, bagi sebagian orang dianggap sangat penting, sehingga perlu diasah secara konsisten. Ada yang melakukan pelatihan fisik dengan melatih bola mata dan kedip kelopak mata, ada yang melakukan pendekatan psikologis dengan imagineering dan seeing technique, ada pula yang mengasahnya secara spiritual dengan meditasi dan berdoa pada kekuatan supranatural. Ini membuktikan secara faktual bahwa melihat bukan hal yang mudah.


Banyak orang merasa sudah melihat tapi sebenarnya tidak “melihat” (baca: buta arti) sama sekali. Artinya, hanya melihat secara fisik, terekam di kornea mata tanpa ada getaran di pikiran, apalagi di hati dan jiwa. Persis seperti cerita tiga orang buta mencoba mendiskripsikan seekor gajah, dengan apa yang disentuhnya. Ada yang mengatakan gajah seperti ular, karena dia memegang belalai, ada yang mengatakan gajah seperti piring karena memegang telinga yang lebar, atau gajah bagai tembok karena memegang tubuh badan yang gemuk dan melebar.


Bagi yang sinis, tentunya berujar, itu lantaran mereka buta, jadi tidak bisa melihat secara keseluruhan bentuk gajah. Namun kenyataannya, kita pun sering seperti orang buta, dapat melihat dimensi fisik soal bentuk, warna, asal dan ukuran. Namun, banyak hal yang kita tidak bisa melihatnya: soal dimensi nilai seperti manfaat, motivasi, potensi dan peluang pengembangannya. Kemampuan melihat dimensi nilai suatu objek yang kita lihat inilah yang membedakan antara winner dan loser.


Pengertian mengenai dimensi nilai objek sangat dipengaruhi oleh setidaknya tiga hal saling terkait yang berkembang setiap saat. Pertama, nilai transendental -- sumber nilai sakral yang diyakini semua orang berasal dari ajaran ulama atau membaca kitab suci mereka. Ada yang bersifat dogmatif ataupun interpretatif. Kedalaman inventori nilai transendental bisa membentuk kacamata plus-minus, kacamata hitam atau kacamata kuda. Persepsi halal dan haram, kafir dan saleh, rohani dan jasmani, mudarat dan manfaat, dosa dan suci, benar dan salah, terang dan gelap, serta surga atau neraka. Buat Puspo Wardoyo, poligami itu indah dan merupakan kesempatan yang harus dimanfaatkan, dan bahkan perlu mendapat award. Namun, bagi Saparinah Sadli, itu kesempatan yang walaupun diperbolehkan, sebaiknya dihindari. Bagi Lina, berkunjung ke rumah duka banyak memperoleh makna, sedangkan buat Lani berpesta mampu menghilangkan duka. Mobil baru terserempet mikrolet, buat Julia berarti: “Apa salah saya, atau Tuhan mau bicara apa?” Akan tetapi, buat Juleha: “Dasar sial, malang amat diriku, akan kutuntut sampai tuntas.”


Kedua, nilai rasional yang dipengaruhi kaidah keilmuan yang kita terima lewat pendidikan, pelatihan dan pengembangan. Semakin dalam kita mempelajari sesuatu -- bukan hanya kulitnya -- semakin mempertajam daya lihat mata kita. Itu sebabnya, membaca buku yang baik, menyimpan berita yang baik, mengolah ilmu yang baik bakal meningkatkan kepekaan “melihat”. Misalnya, Edy -- jawara Internet -- ketika melihat antrean orang di depan teller, timbul ide membuat program teller yang bisa diakses dari mana-mana, seperti teller berjalan dengan menggunakan Internet. Lain halnya bagi Edo -- profesional sibuk, nasabah bank yang bersangkutan -- berpikir keras memindahkan rekeningnya ke bank lain, sebab antrean itu menyebabkan ia banyak kehilangan waktu.


Ketiga, nilai psikologis yang dipengaruhi lingkungan, pengalaman masa lampau, kegagalan dan keberhasilan, ketakutan dan keberanian, serta berbagai macam perasaan yang membelenggu ataupun mendobrak daya tajam mata kita.


Ketiga dimensi nilai tadi, terbentuk dengan frekuensi penyimpanan pada memori otak kita dengan apa yang kita lihat sehari-hari. Semakin sering kita “melihat” hal yang positif seperti ide baru, kalimat positif, membangun, memotivasi dan diskusi yang konstruktif, maka membuat mata kita berdimensi positif. Sebaliknya, semakin sering kita melihat dan bisa enjoy tanpa rasa guilty terhadap hal negatif seperti bacaan dan pembicaraan porno, lelucon berbau seksual, menulis e-mail destruktif, membaca koran tentang pembunuhan, pemerkosaan dan penyelewengan, berselancar di Internet ke daerah terlarang, maka hal itu membentuk mata hati kita berdimensi negatif. Kedua masukan itu setiap hari berperang, jumlah yang tersimpan akan menentukan daya pancar positif dan negatif mata kita. Memori di otak kita memang besar, tapi bukan tak terbatas, isian yang kita isi setiap hari dalam pekerjaan, bacaan dan pergaulan menentukan tendensi mata kita.


Ironisnya, memori untuk hal negatif apalagi yang dilarang agama, makin mudah tersimpan dan melekat dalam mata hati kita. Bad input will last longer. Sulit sekali bila kita menyenangi dan merasa memperoleh manfaatnya. Kalau sudah demikian, sulit sekali dihapuskan hanya dengan perintah delete, erase atau empty recycle bin pada harddisk komputer seperti yang diajarkan para motivator dan konselor. Bila tidak bisa terhapus, bisa menyebabkan penyimpangan tindakan yang mengerikan. Makanya, ada petuah kuno yang tetap sahih sampai sekarang: ”Jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkil dan buanglah. Karena, lebih baik jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke neraka.”


Sebaliknya, kalau kita berdisiplin menata apa yang kita lihat, dan apa yang kita simpan dalam mata hati kita, maka kita memperoleh manfaat besar. Apalagi, kalau dimulai sejak anak-anak, saat penumpukan materi dalam memori demikian cepatnya dan dalam banyak hal akan diingat sepanjang masa. Semakin banyak kenangan indah masuk, maka semakin bahagia, kreatif dan inovatif di hari tua nanti. Karenanya, orang tua tidak boleh terlena dalam mengawasi apa yang mereka tonton di TV dan Internet. Bukan soal pemberdayaan, melainkan pengawasan yang juga menjadi tugas kita. Memang, bukan umur panjang yang kita cari, melainkan kehidupan yang berarti. Berarti buat diri sendiri, keluarga, lingkungan dan masyarakat sekitar. Itu dimulai dengan menemukenali peluang yang kita lihat sehari-hari. Peluang itu selalu ada di sekitar kita, sepertinya Tuhan senantiasa memberi kesempatan kita untuk bisa menemukenali dan memanfaatkannya bagi kemaslahatan bersama.


Hanya saja, mampukah kita berdisiplin dengan “melihat” yang seharusnya perlu dilihat, “melihat” dengan pengertian tentang nilai yang terkandung di dalamnya. Semakin tinggi Anda di kejauhan sana, semakin besar kesempatan memanfaatkan peluang sebagai garam dan terang yang dibutuhkan banyak orang. Bila tidak, Anda semakin tersendiri, lonely at the top. Apalagi, kalau hanya mampu “melihat” kepentingan inner circle Anda, maka Anda akan kehilangan kesempatan menjadi pemimpin dan profesional yang bernilai.


Opini - Paulus Bambang W.S.

Penulis adalah Direktur Pengelola PT Astra Graphia IT Solution.