Dalam membina hubungan asmaranya, perempuan Perancis lebih bahagia daripada perempuan di belahan dunia lainnya. Kok bisa? Nah, Debra Ollivier, penulis buku What French Women Know: About Love, Sex and Other Matters of the Heart and Mind, membeberkannya kepada Anda rahasia bahagia perempuan Perancis.

Lebih Santai
Perempuan Perancis terlatih buat mengikuti kata hatinya ketimbang buku manual berkencan. Tidak ada aturan "cara yang benar" atau "cara yang salah" dalam berkencan dalam kamus mereka. Saat mereka menyukai sesseorang, mereka akan mengikuti perasaan itu, mendengarkan kata hatinya dan mempercayai insting mereka sepenuhnya. Tak kalah penting menikmati setiap momen kebersamaan dengan si dia.

Mereka juga tak terburu-buru dalam urusan asmara, lebih misterius dan tidak terlalu terbuka tentang diri mereka saat kencan pertama. Mereka bergerak sangat perlahan dalam memberikan informasi tentang diri. Semua informasi diri diberikan sedikit-sedikit sejalan dengan waktu.

Rahasia lainnya adalah cara pandang mereka tentang hubungan asmara. Mereka tidak menetapkan target dalam awal menjalin hubungan. Intinya pikiran menggangu seperti "Apakah dia mencintaiku atau tidak?" "Apakah dia orang yang tepat?" tak akan meresahkan mereka. Fokus mereka justru pada setiap momen kebersamaan. hal ini yang melepaskan mereka pada perasan tertekan yang tak perlu.

Lebih menikmati seks
Bagi perempuan Perancis seks tak harus sensasional seperti yang digambarkan majalah-majalah perempuan. Bahwa hubungan asmara harus dibumbui dengan seks yang "panas". Anda harus mencapai orgasme saat berhubungan seks serta segala tip memuaskan pasangan. Dengan begitu banyaknya aturan tak heran perempuan akan sangat sulit untuk bersikap santai dalam menghadapi situasi jatuh cinta, berkencan, hingga seks. Ini tidak terjadi pada perempuan Perancis, mereka menikmati seks dan tak suka diatur cara menikmatinya. Mereka lebih suka menjadi diri sendiri dalam menikmati gairah. Seks bukan semata kepuasan, tapi lebih pada pencarian diri dan ikatan emosional yang membebaskan antara dua sejoli.

Lebih realistis
Meski perempuan Perancis lebih sinis memandang pernikahan bukan berarti mereka takut akan komitmen. Komitmen mereka terhadap sebuah hubungan tak jauh beda dengan banyak perempuan lainnya. Hanya saja mereka tak terjebak dalam konsep "Happily ever after" (bahagia selamanya) . Mereka sangat sadar bahwa hubungan terletak pada pengalaman menjalaninya bukan pada hasil akhir. Dengan cara pikir seperti ini, mereka menjalani hubungan dengan lebih bahagia dan ketika semua berakhir, akan lebih mudah menerima dan tetap menjalani hidup tanpa terjebak dalam kondisi patah hati berkepanjangan.

Sumber: female.kompas.com